Wednesday, April 30, 2008

Cintailah Idola Kita Sayyidina Muhammad S.A.W(siri kedua)

Dalam artikel ini Insya Allah saya akan terus meluncurkan riwayat-riwayat mengenai Junjungan kita Nabi Muhammad saw, untuk menambah pengetahuan kita dan menambah kecintaan kita kepada beliau saw, Perlu kita fahami bahwa wajah Idola kita Nabi Muhammad saw adalah wajah yang dipenuhi cahaya kelembutan dan kasih sayang, kerana beliau adalah pembawa Rahmat bagi sekalian alam, maka wajah beliau penuh kasih sayang, demikian pula ucapan beliau saw, perangai, tingkah laku, dan bahkan bimbingan beliau saw pun penuh dengan kasih sayang Allah swt.

Dilengkapi penjelasan mengenai Tabarruk dan Istighatsah

Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra bahwa : "Rasulullah saw bila selesai shalat subuh, datanglah beberapa Khadim (pembantu) Madinah dengan Bejana-bejana mereka yang berisi air, maka setiap kali datang kepada Rasul saw setiap bejana itu, maka Rasul saw menenggelamkan tangannya pada bejana tersebut, dan sering pula hal itu terjadi di musim dingin, maka Rasul saw tetap memasukkan jarinya pada bejana-bejana itu" (Shahih Muslim Bab : keakraban Rasul saw dan Tabarruk sahabat pada beliau saw/ hadits no.2324).

Dari Anas ra : "Kulihat Rasulullah saw dan pencukur rambut sedang mencukur rambut beliau saw, dan para sahabat mengelilingi beliau saw, maka tak ada rambut yang terjatuh terkecuali sudah didahului tangan mereka untuk mengambilnya" (Shahih Muslim Bab : keakraban Rasul saw dan Tabarruk sahabat pada beliau saw/ hadits no.2325).

Dari Anas ra : "Ummu sulaim ra mengambil keringat Rasul saw yang mengalir dengan handuk kulit dan memerasnya hingga mengalir disebuah mangkuk ketika beliau saw sedang tidur, maka Rasul saw terbangun dan berkata : "apa yang kau perbuat wahai Ummu Sulaim?", maka Ummu Sulaim menjawab : "Kami ingin mengambil berkah untuk anak-anak kami Wahai Rasulullah..", maka Rasul saw menjawab : "kau sudah mendapatkannya". (Shahih Muslim Bab : "Wanginya keringat Nabi saw dan Tabarruk dengannya", hadits no.2331 dan 2332).

Diriwayatkan oleh Abi Jahiifah dari ayahnya, bahwa para sahabat berebutan air bekas wudhu Rasul saw, mereka yang tak mendapatkannya maka mereka mengusap dari basahan tubuh sahabat lainnya yang sudah terkena bekas air wudhu Rasul saw (Shahih Bukhari hadits no.369, demikian juga pada Shahih Bukhari hadits no.5521, dan pada Shahih Muslim hadits no.503 dengan riwayat yang banyak).

Mengenai Tabarruk ini, sudah jelas dan tidak boleh dimungkiri lagi bahwa Rasul saw tak pernah melarangnya, apalagi mengatakan musyrik kepada yang melakukannya, bahkan para sahabat Radhiyallahu'anhum bertabarruk (mengambil berkah) dari Rasul saw, mengambil berkah ini pada dasarnya bukan menyembah, sebagaimana dituduhkan sebagian saudara kita muslimin, tapi merupakan Luapan kecintaan semata terhadap Rasul saw dan itu semua merupakan hal yang lumrah, sebagaimana kita membezakan air zam-zam dengan air lainnya, mengapa?, bukankah itu sama saja dengan Tabarruk dengan air yang muncul di perut bumi?, air zam-zam itu muncul dari sejak Bunda Nabiyallah Ismail as dikunjungi Jibril as.

Riwayat-riwayat diatas adalah dalil jelas bahwa Tabarruk tidak dilarang oleh Rasul saw bahkan sunnah.., bila ada sekelompok orang yang mengatakan Tabarruk itu hanya pada Rasul saw maka bagaimana Rasul saw mengusap Hajarul aswad..?, bagaimana dengan air zam-zam yang diperebutkan muslimin dan dianggap berkhasiat ini dan itu, Demi Allah belum pernah teriwayatkan para sahabat berebutan air zam-zam, mereka memang minum air zam-zam, tapi mereka berebutan air wudhu bekas Rasul saw.., dan rambut beliau saw, bahkan keringat beliau saw.., inilah luapan Mahabbah, pantas dan wajar saja bila seorang kekasih menyimpan baju kekasihnya misalnya, baju usang tak berarti itu sangat berarti bagi sang kekasih, maka istilah "dikeramatkan" dan lain sebagainya itu pada hakikatnya adalah luapan Mahabbah pada orang-orang shalih dan mulia, sebagaimana para sahabat bertabarruk dengan Rasul saw karena luapan Mahabbah (kecintaan) mereka pada Nabi saw, bukan kerana ia Muhammad bin Abdillah, tapi kerana beliau adalah Utusan Allah yang mengenalkan mereka kepada Hidayah dan kemuliaan, demikian pula hingga kini orang-orang muslim bertabarruk kerana luapan cinta mereka pada gurunya yang bernama Kyai fulan misalnya, atau habib fulan, atau orang shalih misalnya, semata mata bukan memuliakan diri si Kyai atau habib atau guru atau si shalih, tapi semua itu disebabkan ia adalah orang yang membimbing mereka pada Keridhoan Allah, atau kerana mereka orang yang shalih dan banyak ibadah kepada Allah, kalau mereka tak shalih (fasiq) nescaya tak akan ada yang mau bertabarruk padanya, maka puncak asal muasal Tabarruk adalah Kemuliaan Allah yang telah memilih hamba Nya fulan menjadi Guru atau Kyai atau Orang shalih, kerana ini semua dengan Izin Allah, sebagaimana firman Nya : "Sungguh Allah memberi hidayah kepada siapa yang dikehendaki Nya", dan ayat Lain : "Tidaklah kalian memiliki keinginan (utk beristiqomah) kecuali telah dikehendaki Allah Rabbul 'Alamien". (QS Al Kuwwirat).

Nah.. dari Kehendak Allah yang menentukan hamba ini dimuliakan maka kita memuliakannya sebagaimana Allah memuliakannya, demikian para sahabat terhadap Rasul saw, ah.. ternyata para sahabat benar-benar asyik dengan idolanya, Idola termulia dari semua Idola sepanjang masa usia Bumi.., kita tercengang-cengang dengan betapa besarnya luapan cinta para sahabat pada Sang Nabi saw, dan ternyata Rasul saw pun memberi kesempatan pada para pecintanya untuk bertabarruk dengan air wudhu beliau saw, dengan keringat beliau saw, dan lainnya sesekali bukan kerana beliau saw menghendakinya, namun dari keluasan hati beliau saw yang memahami luapan cinta para sahabat beliau saw, bila hal ini mungkar maka pastilah beliau melarangnya, dan bila hal ini dikhususkan pada Rasul saw maka beliau saw akan menjelaskannya bahwa ini hanya kekhususan bagi beliau saw sebagai Rasul saw dan tak boleh diikuti oleh selain beliau saw.

Mengenai Istighatsah, yaitu memanggil manusia untuk minta pertolongan, maka hal ini telah diceritakan oleh beliau saw bahwa kelak semua manusia ber Istighatsah kepada Adam as, lalu kepada Musa, lalu kepada Muhammad saw.., demikian dijelaskan dalam Shahih Bukhari hadits no.1405, mengenai pendapat yang mengatakan bahwa Istighatsah harus kepada orang yang dihadapannya maka pendapat ini tidak beralasan, kerana perbezaan jarak tak boleh menghalangi kemuliaan seseorang di sisi Allah swt, saya boleh saja meminta pertolongan pada teman saya diluar negeri, atau minta bantuan pada seorang berkuasa di negeri seberang yang tak saya kenali misalnya, melalui email atau surat atau lainnya, ini sudah terjadi di masa kini, yaitu hubungan antara negara, maka mustahilkah Allah menghubungkan hamba Nya yang masih hidup dengan yang sudah wafat?, bukankah diwajibkan bagi kita menyembahyangkan mayat dan mendoakannya dengan Doa "Wahai Allah ampunilah dia, maafkanlah dia, muliakanlah kewafatannya, luaskanlah kuburnya, dst didalam shalat janazah?, bukankah hadits shahih muslim dan Bukhari menjelaskan bahwa orang mati tersiksa di alam kubur kerana jeritan orang yang menangisinya?, bukankah ini menunjukkan ada hubungan antara yang hidup dan yang mati?, bukankah Rasul saw mengatakan bahwa diperbolehkannya mengirim amal untuk orang yang sudah wafat? (saebagaimana diriwayatkan dalam shahih Muslim), bukankah Allah mengajari kita doa "Wahai Allah Ampunilah kami dan orang orang yang telah mendahului kami dalam beriman..?".

Yang jelas, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits Istighatsah diatas, bahwa aku dan kalian dan seluruh manusia kelak di hari kiamat akan melakukan Istighatsah.., yaitu kepada Adam as dan akhirnya kepada Muhammad saw, mau tak mau, rela tak rela, apakah menganggapnya syirik atau lainnya, namun Sayyidina Muhammad saw menjelaskan bahwa aku dan kalian dan seluruh ummatnya kelak akan ber Istighatsah kepada beliau saw.

Alangkah Indahnya Idola kita Nabi S.A.W mulia ini, dan selama kita mengakui bahwa para sahabat adalah orang-orang yang menjadi panutan kita, maka lihatlah kecintaan sahabat radhiyallahu'anhum pada beliau saw, bahkan ketika beliau wafat.., apa yang diperbuat oleh Khalifah kita Sayyidina Abubakar Asshiddiq ra?, beliau menyingkap kain penutup wajah Rasulullah saw lalu memeluk Jenazah beliau saw dan menciuminya seraya menangis dan berkata lirih : "Demi ayahku, Engkau dan Ibuku, tak akan terjadi dua kali kematian atasmu.. (maksudnya engkau tak akan merasakan sakitnya kematian lagi setelah ini). Demikian diriwayatkan didalam Shahih Bukhari (hadits no.4187).

Mengapa Abubakar Ashiddiq ra bersumpah dengan ayah ibunya dan Rasul saw?, dan berkata kata kepada Jenazah yang sudah wafat?, mengapa pula ia menangis dan menciumi jenazah itu?, mengapa menciumi jenazah orang yang sudah wafat sambil menangis?, adakah kita menemukan jawaban lain selain luapan kecintaannya pada Muhammad Rasulullah saw?, alangkah cintanya Abubakar Asshiddiq ra kepada Rasul saw, bahkan setelah wafat pun Abubakar Asshiddiq masih menciumi jenazah beliau saw, Alangkah cintanya Umar bin Khattab kepada Rasul saw hingga ia awalnya tak mau menerima kejadian wafatnya Rasul saw..?, tak percaya, dan mengingkari wafatnya Rasul saw?, mengapa?, bodohkah ia?, adakah jawaban lain selain besarnya kecintaan Umar bin Khattab ra pada Nabi saw?,

Wahai Allah Yang Maha Memenuhi sanubari para sahabat Nabi dengan kecintaan dan Asyik rindu pada Nabi Mu Muhammad saw.. Jadikan sanubari kami diterangi pula kecintaan pada Nabi Mu Muhammad saw, dan jadikanlah sanubari kami beridolakan Nabi Muhammad saw.. amiin..

Kontributor: Munzir Almusawa


(Bersambung)

KEWAJIPAN-KEWAJIPAN AL-AKH MUSLIM

Dalam hubungan kewajipan-kewajipan al-akh muslim yang menggabungkan diri ke dalan gerakan Islam,Ustaz Hasan Al-Banna telah menentukan dalam Risalah Ta’alim lebih dari tiga puluh kewajipan. Melalui kewajipan-kewajipan ini,Ustaz Hasan Al-Banna telah merumuskan kewajipan al-akh terhadap dirinya, rumahtangga dan masyarakatnya.Ustaz Hasan Al-Banna telah mengatakan : “Saudara yang jujur, keimananmu terhadap bai’ah ini mewajibkan saudara menunaikan kewajipan-kewajipan berikut, sehingga dengan kewajipan-kewajipan ini saudara telah menjadi seketul bata yang kuat dalam proses pembinaan ini ;

1. Hendaklah saudara mempunyai wirid tertentu dari Al-Quran tidak kurang dari satu juzuk tiap-tiap hari. Hendaklah saudara mengkhatamkan Al- Quran tidak lebih dari masa sebulan dan tidak kurang dari tiga hari.

2. Hendaklah saudara mengelokkan bacaan Al-Quran, mendengar Al-Quran dan mengambil pengajaran dari Al-Quran. Hendaklah saudara mengkaji sejarah Rasulullah saw dan sejarah orang-orang Islam yang terdahulu sekadar keluangan waktu saudara. Paling kurang hendaklah saudara membaca buku “Humatul Islam”. Hendaklah saudara banyak membaca hadis Rasulullah saw dan menghafaz sekurang-kurangnya empat puluh hadis, sebaik-baiknya empat puluh itu ialah hadis susunan Imam Nawawi. Hendaklah saudara mengkaji risalah usul akidah dan risalah cabang hukum fekah.

3. Hendaklah saudara bersegera memeriksa kesihatan saudara secara umum dan mengkaji penyakit yang ada pada saudara. Hendaklah saudara mengambil berat tentang soal-soal kekuatan tenaga saudara, menjaga tubuh badan dan menjauhi sebab-sebab yang membawa kelemahan kesihatan saudara.

4. Janganlah saudara berlebihan minum kopi, teh dan lain-lain minuman yang merangsang. Hendaklah saudara jangan merokok sama sekali.

5. Hendaklah saudara menjaga kebersihan dalam semua perkara, tempat tinggal, pakaian, anggota dan tempat bekerja. Sesungguhnya Islam dibina di atas kebersihan.

6. Hendaklah saudara benar dalam percakapan. Jangan berdusta sama sekali.

7. Hendaklah saudara menunaikan janji dan mengotakan apa yang saudara perkatakan. Jangan saudara menyalahinya walau bagaimana keadaan saudara.

8. Hendaklah saudara bersifat berani dan luas pandangan. Keberanian yang paling mulia ialah berterus terang demi hak dan kebenaran, menyimpan rahsia, mengaku kesalahan, menginsafi diri dan menahan diri dari kemarahan.

9. Hendaklah saudara bersifat serius dan mengutamakan kesungguhan, tetapi keseriusan saudara tidaklah menghalang saudara dari bergurau dengan gurauan yang benar dan senyum ketawa yang tidak melampau.

10. Hendaklah saudara bersifat pemalu, halus perasaan, sensitif terhadap perkara-perkara baik dan jahat dengan merasakan gembira melihat kebaikan dan dukacita melihat kejahatan. Hendaklah saudara menuntut martabat kedudukan atau pangkat yang lebih rendah dari martabat yang sepatutnya saudara terima demi untuk mencari martabat saudara yang sebenar.

11. Hendaklah saudara berlaku adil, menghukum dengan yang sebenarnya dalam semua hal. Kemarahan saudara jangan sampai melupakan kebaikan orang, demikian juga keredaan saudara jangan sampai melupakan kejahatan orang lain. Permusuhan saudara jangan sampai melupakan kebaikan orang lain. Saudara mestilah berkata benar sekalipun terhadap diri saudara dan orang yang paling hampir dengan saudara, sekalipun perkara itu pahit bagi saudara.

12. Saudara mestilah cergas, melatih diri memberikan khidmat umum. Saudara mestilah merasa bahagia apabila dapat memberikan khidmat kepada orang lain, oleh itu saudara hendaklah menziarahi pesakit, menolong orang yang berhajat, membantu orang yang lemah, memujuk dan menenangkan mereka yang ditimpa kemalangan sekalipun dengan perkataan yang baik dan saudara mestilah sentiasa bersegera melakukan kerja-kerja kebajikan.

13. Saudara mestilah bersifat belas kasihan, pemurah dan pengampun. Saudara hendaklah mengampun dan memaafkan, berlembut dan berlemah lembut. Saudara hendaklah belas kasihan kepada manusia dan binatang, baik hubungan dengan orang lain, menjaga adab sopan masyarakat Islam; dengan itu saudara mestilah berlembut dengan orang yang lebih muda, menghormati orang yang lebih tua, melapangkan tempat duduk dalam majlis, jangan mengintip rahsia, jangan mencerca dan mengutuk, minta izin waktu masuk dan keluar dan lainnya.

14. Saudara seharusnya cekap membaca dan menulis. Saudara hendaklah membanyakkan membaca dan meneliti risalah Ikhwan Muslimin, akhbar dan majalah lainnya .Hendaklah saudara menyediakan khutub-khutub khas untuk saudara sekalipun kecil. Saudara mestilah meluaskan ilmu dan mempertingkatkan pengkhususan saudara dalam satu-satu bidang. Saudara juga mestilah memahami masalah-masalah Islamiah secara umum dengan kefahaman dan membolehkan saudara menggambarkan permasalahan itu dan menentukan hukumnya sesuai dengan tuntutan fikrah kita.

15. Saudara mestilah melakukan kerja-kerja iktisad yang mendatangkan hasil kemasukan wang walau bagaimanapun kekayaan saudara. Mengutamakan kerja-kerja bebas sekalipun kecil pendapatannya, menaruh minat kepada pekerjaan itu walau setinggi mana kelulusan saudara.

16. Jangan mengutamakan jawatan kerajaan. Saudara mestilah menganggap jawatan kerajaan itu sebagai satu sumber rezeki yang sempit, tetapi saudara jangan menolaknya jika di beri peluang dan jangan saudara meletakkan jawatan itu kecuali ianya benar-benar bertentangan dengan kewajipan dakwah.

17. Saudara mestilah bersungguh-sungguh menunaikan tugas-tugas saudara dengan berusaha memperelok dan memperkemaskannya,menjaga masa dan jangan menipu

18. Saudara mestilah menerima hak saudara dengan baik, menyempurnakan hak orang lain dengan tidak kurang, tidak payah di minta dan jangan melambat-lambatkannya sama sekali.

19. Saudara mestilah menjauhi segala jenis perjudian walau bagaimanapun tujuan di sebaliknya,menjauhi punca-punca pencarian yang haram walau bagaimanapun besar dan cepatnya keuntungan dari punca-punca itu.

20. Saudara mestilah menjauhi riba dalam semua urusan dan membersihkan diri saudara dari riba.

21. Saudara mestilah memberi khidmat kepada kekayaan Islam secara umum dengan menggalakkan industri dan perbadanan-perbadanan ekonomi Islam. Saudara mestilah berhati-hati benar supaya satu sen pun wang saudara tidak jatuh ke tangan orang bukan Islam walau bagaimanapun keadaan saudara. Jangan saudara pakai dan makan kecuali barang pengeluaran negara Islam.

22. Saudara mestilah mempunyai wang dalam dakwah dengan memberikan sebahagian dari harga saudara. Saudara mestilah menunaikan zakat, jadikanlah zakat itu sebagai hak yang tertentu bagi mereka yang berhak walau bagaimanapun kecilnya pendapatan saudara.

23. Saudara mestilah menyimpan sebahagian dari pendapatan saudara untuk masa-masa kecemasan sekalipun sedikit dan jangan sekali-kali saudara berlebihan dalam perkara-perkara mewah.

24. Saudara mestilah bekerja sekadar yang upaya untuk menghidupkan adat

istiadat dan kebudayaan Islam dan menghapuskan kebudayaan kuning dalam kehidupan saudara yang zahir. Sebahagian dari adat-adat itu ialah salam, bahasa, sejarah, pakaian, perabut, masa kerja dan rehat, makan minum, adat waktu datang ziarah dan permisi, adat waktu kegembiraan dan kedukaan dan lainnya. Saudara mestilah mengikut sunnah dalam semua hal ini.

25. Saudara mestilah memulaukan mahkamah-mahkamah tempatan dan semua mahkamah yang tidak bercorak Islam. Saudara mestilah memulaukan akhbar-akhbar, majalah, kelab-kelab, perhimpunan-perhimpunan sekolah-sekolah, dan pertubuhan-pertubuhan yang bertentangan dengan fikrah Islamiah.

26. Saudara mestilah sentiasa ingatkan Allah, hari akhirat dan bersedia untuk menghadapinya. Saudara mestilah mengikut jalan mencari keredhaan Allah dengan himmah dan azam yang tinggi. Saudara mestilah menghampirkan diri kepada Allah dengan melakukan ibadat-ibadat yang sunat seperti sembahyang waktu malam, puasa paling kurang tiga hari sebulan, membanyakkan zikir dalam hati dan lisan. Saudara mestilah memilih doa-doa ma’athur, yang pernah dibuat oleh Rasulullah saw dalam semua keadaan.

27. Bila saudara bersuci, saudara mestilah menyempurnakan syarat rukunnya dan saudara mestilah sentiasa dalam keadaan berwuduk.

28. Saudara mestilah menyempurnakan syarat dan rukun sembahyang dan sentiasa menunaikannya dalam waktunya. Saudara mestilah mengutamakan sembahyang berjemaah sembahyang di masjid sedapat yang mungkin.

29. Saudara mestilah berpuasa dalam bulan Ramadhan, menunaikan haji jika upaya dan saudara mestilah melakukannya sekarang jika saudara berkuasa.

30. Saudara mestilah berniat untuk berjihad, ingin mati syahid dan membuat persediaan untuk tujuan tersebut sedaya yang boleh.

31. Saudara mestilah sentiasa memperbaharui taubat dan istighfar,menjauhi dosa-dosa kecil lebih-lebih lagi dosa-dosa besar. Saudara mestilah menentukan satu masa yang khas sebelum tidur untuk saudara menghisab segala buruk baik yang telah saudara lakukan. Saudara mestilah menjaga masa, kerana masa itulah hidup. Jangan saudara menggunakan sedikit pun masa saudara untuk perkara-perkara yang tidak berfaedah. Saudara mestilah bersifat warak,menjauhi perkara-perkara syubahat supaya saudara tidak terjatuh ke dalam perkara-perkara yang haram.

32. Saudara mestilah menjauhi arak dan bahan-bahan yang memabukkan dan yang seumpamanya.

33. Saudara mestilah melawan nafsu saudara sekeras-kerasnya sehingga mudah bagi saudara mengendalikannya. Saudara mestilah menutup pandangan saudara dari melihat perkara yang mungkar, melawan peasaan, melawan dorongan naluri dalam diri saudara. Saudara mestilah mengangkat taraf saudara melalui naluri saudara dengan mengarahkannya kepada perkara-perkara baik dan halal. Saudara mestilah menjauhkan naluri saudara dari perkara-perkara haram,bila dan di mana sahaja.

34. Saudara mestilah memerangi tempat-tempat hiburan apa lagi mendekatinya. Saudara mestilah menjauhi perkara zahir yang menunjukkan kemewahan,boros dan bongkak.

35. Saudara mestilah menjauhkan diri dari mendampingi rakan-rakan yang jahat dan kawan-kawan yang rosak akhlaknya. Saudara mestilah menjauhi tempat-tempat maksiat dan dosa.

36. Saudara mestilah benar-benar mengenali anggota kumpulan saudara seorang demi seorang dan memperkenalkan diri saudara kepada mereka, demikian juga saudara hendaklah menunaikan hak-hak persaudaraan dengan sempurnanya dan dengan rasa kasih sayang, menghargai, tolong-menolong, mengutamakan orang lain dan saudara mestilah hadir dalam perhimpunan-perhimpunan mereka, jangan saudara ketinggalan kecuali dengan keuzuran yang tidak dapat dielakkan di samping saudara sentiasa mengutamakan mereka dalam pergaulan dan perhubungan saudara.

37. Saudara mestilah memutuskan hubungan saudara dengan mana-mana pertubuhan atau mana-mana perhimpunan yang tidak ada hubungan dengan maslahat fikrah saudara lebih-lebih lagi bila saudara diperintahkan berbuat demikian.

38. Saudara mestilah bekerja menyebarkan dakwah kita di mana-mana sahaja. Saudara hendaklah memberitahu pucuk pimpinan tentang keadaan dan hal-hal yang melingkungi saudara dan jangan saudara melakukan sesuatu amal yang akan memberi kesan dan menjejaskan perkara-perkara asasi pada pucuk pimpinan kecuali setelah mendapat izin. Saudara mestilah sentiasa melakukan hubungan roh dan amal dengan pucuk pimpinan. Saudara mestilah menganggap diri saudara sebagai seorang tentera dalam suasana tegang yang sentiasa menunggu perintah.

Akhir sekali apa yang baik datangnya daripada Allah S.W.T dan apa yang buruk datangnya daripada kelemahan saya sendiri.semoga kita sama-sama dapat amal dan sampaikan kepada saudara-saudara seislam kita.berkhidmatlah untuk islam walauapa jua cara sekalipun.

beriman,berilmu dan beramal….Wallahu a’lam..

Wassalam….

Rujukan dari buku: Mengapa saya menganut Islam.

Saturday, April 26, 2008

Mengenai merokok

Bismillahirrahmannirrahim...
alhamdulillah..segala puji dan puja hanya pada Allah S.W.T,selawat dan salam kepada Junjungan sayyidina muhammad S.A.W..dan tidak lupa pada para sahabat,ahli keluarganya isteri-isterinya serta tabi'iin serta mereka yang mengikut nya...
penulis melihat sebahagian besar dari masyarakat kita mengamalkan tabiat merokok..walaupun mereka tahu kesan buruknya akan tetapi mereka tetap merokok juga..ada yang peranggapan bahawa merokok akan mendatangkan ketenangan dan akan memberikan tenaga pada diri...hal ini mungkin ada benarnya akan tetapi kesan buruknya lebih banyak dari kesan baiknya..

oleh yang demikian,penulis serba sedikit ingin menasihatkan kepada mereka yang masih lagi mengamalkan tabiat merokok..kerana merokok bukan sahaja haram malah kesan buruknya akan membahayakan kesihatan dan akan membawa kepada mati dan ia juga adalah satu pembaziran..maksud firman Allah S.W.T;Sesungguhnya orang-orang yang membazir itu adalah saudara bagi syaitan..

Kebanyakan Ulamak juga mengatakan bahawa merokok adalah Haram..walaupun adalah ulamak yang mengatakan makruh akan tetapi Majoriti ulamak bersepakat tetang haramnya merokok ini..Derdasarkan"Fatwa Semasa Mengenai Hukum Merokok"yang dikeluarkan oleh jabatan mufti sebuah negeri menyatakan bahawa;

1. Kerajaan Arab Saudi mengeluarkan fatwa bahawa merokok, menanam tembakau dan memperniagakannya hukumnya adalah haram kerana daripadanya terdapat kemudaratan.

2. Ulama-ulama semasa seperti Dr Abdul Jalil Shalabi mengatakan merokok adalah haram kerana ia boleh mendatangkan kemudaratan kepada kesihatan masyarakat

3. Dr Zakaria Al Bari (anggota Akademi Kajian Islam dan Anggota Lujnah Fatwa Al-Azhar) menyatakan merokok hukumnya haram atau makruh adalah pendapat yang kuat.

4. Al Imam Abdul Halim Mahmud dalam kitabnya telah memberi fatwa merokok hukumnya makruh jika ia tidak mendatangkan kemudaratan kepada kesihatan. Sebaliknya adalah haram jika ia mendatangkan kemudaratan kepada kesihatan.

5. Syeikh Hasanain Makhluf iaitu bekas Mufti Kerajaan Mesir telah menetapkan merokok adalah haram jika mendatangkan mafsadat kesihatan dan mengurangkan hak keluarga dari segi pengurangan nafkah kepada keluarganya. Makruh jika mafsadat itu tidak ketara atau tidak mengurangkan hak nafkah keluarga.

6. Di Malaysia, Muzakarah Jawatankuasa Fatwa, Majlis Kebangsaan Hal Ehwal Islam Malaysia Kali Ke-37 yang berlangsung pada 23 Mac 1995 telah memutuskan bahawa amalan merokok itu hukumnya adalah haram menurut pandangan Islam.

7. Fatwa Negeri Selangor Darul Ehsan yang telah diwartakan pada 7 Disember 1995 di bawah Enakmen Pentadbiran Perundangan Islam 1989 telah menyebutkan bahawa amalan menghisap apa jua jenis rokok adalah haram bagi mana-mana orang Islam.

8. Fatwa Negeri Perlis memutuskan bahawa menanam tembakau atau merokok dan memanfaatkan hasil tembakau adalah haram.

9. Jawatankuasa Fatwa Negeri Kedah berpegang kepada fatwa merokok adalah haram walaupun sehingga kini belum ada penguatkuasaan berhubung perkara itu kerana berdasarkan pendapat pengamal perubatan bahawa perbuatan merokok boleh mendatangkan mudarat.

10. Jawatankuasa Fatwa Negeri Melaka juga telah bersetuju menerima pakai keputusan Muzakarah Jawatankuasa Fatwa, Majlis Kebangsaan Hal Ehwal Islam Malaysia Kali Ke-37 bahawa amalan merokok itu hukumnya adalah haram.

Oleh yang demikian penulis menyeru kepada mereka yang mengamalkan tabiat merokok,agar berhentilah dari merokok..kalau sehari kita belanjakan 5 ringgit atau lebih atau lebih kerana semata-untuk merokok,berapa banyak kita kita habiskan duit kita setahun.itu baru setahun merokok.kalau seumur hidup kita merokok..banyak juga kita habiskan duit kita..tak ke itu satu pembaziran..baik kita menabung..ada faedahnya..belanja kawan-kawan ke..dapat jugak pahala..

akhir sekali penulis memohon maaf sekiranya ada terkasar bahasa dan menyinggungkan hati..apa yang baik datang dari Allah dan apa yang x baik adalah kelemahan diri penulis sendiri...
semoga Allah merahmati kita semua sebagai hamba..dan semoga kita selalu bersyukur dengan segala nikmat yang diberikan..sekian wassalam..

Thursday, April 24, 2008

RAYUAN SEORANG LELAKI KEPADA WANITA

Tolonglah Wahai Wanita

: Rayuan Seorang Lelaki

Kelmarin saya mendapat satu email dari yahoogroup saya. Ia merupakan rintihan seorang lelaki sudah berkahwin ( jika belum kahwin, mungkin lebih dahsyat cabarannya) yang masih mempunyai iman tetapi sedang diuji dengan begitu kritikal oleh suasana sekelilingnya, terutamanya oleh wanita.

Wahai para wanita, bantulah dirimu dan umat Islam yang ingin menjaga iman mereka. Janganlah menggoda atau termenggoda (tanpa sengaja) mereka dengan dosa-dosamu dan kecuaianmu terhadap hak Allah SWT. Moga kita semua terselamat.

Nabi Muhammad bersabda :

صِنْفَانِ من أَهْلِ النَّارِ لم أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بها الناس وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ رؤوسهن كأسنة الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ ولا يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ من مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

Ertinya : "Ada dua golongan dari ahli neraka yang belum pernah saya lihat keduanya itu: (1) Kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi yang mereka pakai buat memukul orang (penguasa yang kejam); (2) Perempuan-perempuan yang berpakaian tetapi telanjang, yang cenderung kepada perbuatan maksiat dan mencenderungkan orang lain kepada perbuatan maksiat, rambutnya sebesar punuk unta. Mereka ini tidak akan boleh masuk syurga, serta tidak dapat akan mencium bau syurga, padahal bau syurga itu tercium sejauh perjalanan demikian dan demikian." (Riwayat Muslim)

Sebar luaskan nasihat ini, moga ia mampu sampai kepada wanita seksi yang tidak mahu membaca di web nasihat agama seperti ini.

Bacalah nasihat lengkap saya di link berikut :-

Sekian

Zaharuddin Abd Rahman

http://www.zaharuddin.net/

Cintailah idola kita Sayyidina Muhammad S.A.W

Dalam artikel ini Insya Allah Penulis akan menceritakan riwayat-riwayat mengenai Junjungan kita Nabi saw, untuk menambah pengetahuan kita dan menambah kecintaan kita kepada beliau saw, Perlu kita fahami bahwa wajah Idola kita Nabi Muhammad saw adalah wajah yang dipenuhi dengan cahaya kelembutan dan kasih sayang, karena beliau adalah pembawa Rahmat bagi sekalian alam, maka wajah beliau penuh kasih sayang, demikian pula ucapan beliau saw, perangai, tingkah laku, dan bahkan bimbingan beliau saw pun penuh dengan kasih sayang Allah swt.

Seorang lelaki bertanya kepada Albarra' bin Azib ra :Apakah wajah Rasul saw seperti pedang ? (bukankah beliau banyak berperang, apakah wajahnya bengis seperti penguasa kejam?), maka menjawablah Albarra' bin Azib ra :Tidak.. tapi bahkan wajah beliau bagai Bulan Purnama..?, (kiasan tentang betapa lembutnya wajah beliau yang dipenuhi kasih sayang) (Shahih Bukhari hadits no.3359, hadits serupa Shahih Ibn Hibban hadits no.6287).

Diriwayatkan oleh Jabir bin samurah ra :wajah beliau saw bagaikan Matahari dan Bulan? (Shahih Muslim hadits no.2344, hadits serupa pada Shahih Ibn Hibban hadits no.6297), demikian pula riwayat Sayyidina Ali.kw, yang mengatakan : ?seakan akan Matahari dan Bulan beredar di wajah beliau saw?. (Syamail Imam Tirmidzi), demikian pula diriwayatkan oleh Umar bin khattab ra bahwa ?Rasul saw adalah manusia yang bibirnya paling indah?.

Al Imam Alhafidh Syeikh Abdurrahman Addeba'I mengumpulkan ciri ciri Sayyidina Muhammad saw :Beliau saw itu selalu dipayungi oleh awan dan diikuti oleh kabut tipis, hidung beliau saw lurus dan indah, Bibirnya bagaikan huruf Miim (kiasan bahwa bibir beliau tak terlalu lebar tak pula sempit dan sangat indah), Kedua alisnya bagaikan huruf Nuun, (kiasan bahwa alis beliau itu tebal dan sangat hitam dan bersambung antara kiri dan kanannya)?.

Dari Abi Jahiifah ra :Para sahabat berebutan mengambil telapak tangan beliau dan mengusapkannya di wajah mereka, ketika kutaruh telapak tangan beliau saw diwajahku ternyata telapak tangan beliau saw lebih sejuk dari es dan lebih wangi dari misik? (Shahih Bukhari hadits no.3360).

Berkata Anas ra :Tak kutemukan sutera atau kain apapun yang lebih lembut dari telapak tangan Rasulullah saw, dan tak kutemukan wangian yang lebih wangi dari keringat dan tubuh Rasul saw? (Shahih Bukhari hadits no.3368). Kami tak melihat suatu pemandangan yg lebih menakjubkan bagi kami selain Wajah Nabi saw?. (Shahih Bukhari hadits no.649 dan Muslim hadits no.419) ?Ketika perang Uhud wajah Rasul saw terluka dan mengalirkan darah segar, maka putrinya yaitu Sayyidah Fathimah ra mengusap darah tersebut dan Sayyidina Ali kw memegangi beliau saw, namun ketika terlihat darah itu terus mengalir, maka diambillah tikar dan dibakar, maka debunya ditaburkan diluka itu, maka darahpun terhenti?. (Shahih Bukhari hadits no.2753).

Dari anas bin malik ra :Dan saat itu dirumah hanya aku, ibuku dan makcikku, lalu selepas shalat beliau berdoa untuk kami dengan kebaikan Dunia dan Akhirat, lalu Ibuku berkata :doakan pelayanmu ini wahai Rasulullah..? (maksudnya Anas ra), maka Rasul saw mendoakanku dan akhir doanya adalah :Wahai Allah Perbanyakanlah Hartanya dan keturunannya dan berkahilah? (Shahih Muslim hadits no.660).

"Dan beliau saw itu adalah manusia yg terindah wajahnya, dan terindah akhlaknya" (Shahih Bukhari hadits no.3356) ."Dan beliau saw itu adalah manusia yg termulia dan manusia yg paling dermawan, dan manusia yang paling berani" (Shahih Bukhari hadits no.5686).

Dari Abu Hurairah ra :"Wahai Rasulullah.., bila kami memandang wajahmu maka terangkatlah hati kami dalam puncak kekhusyu'an, bila kami berpisah maka kami teringat keduniawan, dan mencium istri kami dan bercanda dengan anak anak kami? (Musnad Ahmad Juz 2 hal.304, hadits no.8030 dan Tafsir Ibn katsir Juz 1 hal.407 dan Juz 4 hal.50).

(Bersambung)

Wednesday, April 23, 2008

selamat menghadapi imtihan

Bismillahirrahmannirahim....
segala puji-pujian hanya berhak bagi Allah S.W.T yang sebenar-benarnya..selawat dan salam kepada junjungan kita yang mulian nabi Muhammad S.A.W...

Dengan adanya masa yang terluang ini,ana ingin mengucapkan selamat menghadapi imtihan yang akan datang tak lama lagi...ana ingin mengajak sahabat-sahabat marilah kita sama-sama berusaha sebaik yang mungkin supaya apa yang kita cita-citakan tercapai...jadi persiapkanlah diri kita dengan memberbanyakkan membaca,berbincang dengan sahabat-sahabat,menghapal,dan sebagainya...

akhir sekali ana ingin meminta ampun dan maaf kepada sahabat-sahabat sekiranya ana ada melakukan kesalahan pada sahabat-sahabat samada sedar atau tidak.setiap manusia tak lari dari melakukan kesalahan.jadi ana memohonlah sebanyak2 kemaafan pada sahabat-sahabat..doakan semoga kita sama-sama dipermudahkan menjawab soalan exam nanti dan lulus dalam exam...semoga Allah memudahkan urusan kita didunia dan diakhirat...
ameeen......wassalam..

Tawasul

Kontributor: Munzir Almusawa

Thursday, 27 April 2006

Tawasul

Memang banyak pemahaman saudara-saudara kita muslimin yang perlu diluruskan tentang tawassul, tawassul adalah berdoa kepada Allah dengan perantara amal shalih, orang shalih, malaikat, atau orang-orang mukmin. Tawassul merupakan hal yang sunnah, dan tak pernah ditentang oleh Rasul saw, tak pula oleh Ijma Sahabat radhiyallahuanhum, tak pula oleh Tabiin, dan bahkan para Ulama dan Imam-Imam besar Muhadditsin, mereka berdoa tanpa perantara atau dengan perantara, dan tak ada yang menentangnya, apalagi mengharamkannya, atau bahkan memusyrikkan orang yang mengamalkannya.

Pengingkaran hanya muncul pada abad ke 19-20 ini, dengan munculnya sekte sesat yang memusyrikkan orang-orang yang bertawassul, padahal Tawassul adalah sunnah Rasul saw, sebagaimana hadits shahih dibawah ini : Wahai Allah, Demi orang-orang yang berdoa kepada Mu, demi orang-orang yang bersemangat menuju (keridhoan) Mu, dan Demi langkah-langkahku ini kepada (keridhoan) Mu, maka aku tak keluar dengan niat berbuat jahat, dan tidak pula berniat membuat kerusuhan, tak pula keluarku ini karena Riya atau sumah.. hingga akhir hadits. (HR Imam Ahmad, Imam Ibn Khuzaimah, Imam Abu Naiem, Imam Baihaqy, Imam Thabrani, Imam Ibn Sunni, Imam Ibn Majah dengan sanad Shahih). Hadits ini kemudian hingga kini digunakan oleh seluruh muslimin untuk doa menuju masjid dan doa safar.

Tujuh Imam Muhaddits meriwayatkan hadits ini, bahwa Rasul saw berdoa dengan Tawassul kepada orang-orang yang berdoa kepada Allah, lalu kepada orang-orang yang bersemangat kepada keridhoan Allah, dan barulah bertawassul kepada Amal shalih beliau saw (demi langkah2ku ini kepada keridhoan Mu).

Siapakah Muhaddits?, Muhaddits adalah seorang ahli hadits yang sudah hafal 10.000 (sepuluh ribu) hadits beserta hukum sanad dan hukum matannya, betapa jenius dan briliannya mereka ini dan betapa Luasnya pemahaman mereka tentang hadist Rasul saw, sedangkan satu hadits pendek, bisa menjadi dua halaman bila disertai hukum sanad dan hukum matannya. Lalu hadits diatas diriwayatkan oleh tujuh Muhaddits.., apakah kiranya kita masih memilih pendapat madzhab sesat yang baru muncul di abad ke 20 ini, dengan ucapan orang-orang yang dianggap muhaddits padahal tak satupun dari mereka mencapai kategori Muhaddits , dan kategori ulama atau apalagi Imam Madzhab, mereka bukanlah pencaci, apalagi memusyrikkan orang-orang yang beramal dengan landasan hadits shahih.

Masih banyak hadits lain yang menjadi dalil tawassul adalah sunnah Rasul saw, sebagaimana hadits yang dikeluarkan oleh Abu Nu'aim, Thabrani dan Ibn Hibban dalam shahihnya, bahwa ketika wafatnya Fathimah binti Asad (Bunda dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw, dalam hadits itu disebutkan Rasul saw rebah/bersandar dikuburnya dan berdoa : Allah Yang Menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Hidup tak akan mati, ampunilah dosa Ibuku Fathimah binti Asad, dan bimbinglah hujjah nya (pertanyaan di kubur), dan luaskanlah atasnya kuburnya, Demi Nabi Mu dan Demi para Nabi sebelum Mu, Sungguh Engkau Maha Pengasih dari semua pemilik sifat kasih sayang.", jelas sudah dengan hadits ini pula bahwa Rasul saw bertawassul di kubur, kepada para Nabi yang telah wafat, untuk mendoakan Bibi beliau saw (Istri Abu Thalib).

Demikian pula tawassul Sayyidina Umar bin Khattab ra. Beliau berdoa meminta hujan kepada Allah : Wahai Allah.. kami telah bertawassul dengan Nabi kami (saw) dan Engkau beri kami hujan, maka kini kami bertawassul dengan Paman beliau (saw) yang melihat beliau (saw), maka turunkanlah hujan..?. maka hujanpun turun. (Shahih Bukhari hadits no.963 dan hadits yang sama pada Shahih Bukhari hadits no.3508).

Umar bin Khattab ra melakukannya, para sahabat tak menentangnya, demikian pula para Imam-Imam besar itu tak satupun mengharamkannya, apalagi mengatakan musyrik bagi yang mengamalkannya, hanyalah pendapat sekte sesat ini yang memusyrikkan orang yang bertawassul, padahal Rasul saw sendiri berrtawassul. Apakah mereka memusyrikkan Rasul saw?, dan Sayyidina Umar bin Khattab ra bertawassul, apakah mereka memusyrikkan Umar ?, Naudzubillah dari pemahaman sesat ini.

Mengenai pendapat sebagian dari mereka yang mengatakan bahwa tawassul hanya boleh pada orang yang masih hidup, maka entah darimana pula mereka mengarang persyaratan tawassul itu, dan mereka mengatakan bahwa orang yang sudah mati tak akan dapat memberi manfaat lagi.., pendapat yang jelas-jelas datang dari pemahaman yang sangat dangkal, dan pemikiran yang sangat buta terhadap kesucian tauhid..

Jelas dan tanpa syak bahwa tak ada satu makhlukpun dapat memberi manfaat dan mudharrat terkecuali dengan izin Allah, lalu mereka mengatakan bahwa makhluk hidup bisa memberi manfaat, dan yang mati mustahil?, lalu dimana kesucian tauhid dalam keimanan mereka? Tak ada perbedaan dari yang hidup dan yang mati dalam memberi manfaat kecuali dengan izin Allah.., yang hidup tak akan mampu berbuat terkecuali dengan izin Allah, dan yang mati pun bukan mustahil memberi manfaat bila dikehendaki Allah. karena penafian kekuasaan Allah atas orang yang mati adalah kekufuran yang jelas.

Ketahuilah bahwa tawassul bukanlah meminta kekuatan orang mati atau yang hidup, tetapi berperantara kepada keshalihan seseorang, atau kedekatan derajatnya kepada Allah swt, sesekali bukanlah manfaat dari manusia, tetapi dari Allah, yang telah memilih orang tersebut hingga ia menjadi shalih, hidup atau mati tak membedakan Kudrat ilahi atau membatasi kemampuan Allah, karena ketakwaan mereka dan kedekatan mereka kepada Allah tetap abadi walau mereka telah wafat.

Contoh lebih mudah, anda ingin melamar pekerjaan, atau mengemis, lalu anda mendatangi seorang saudagar kaya, dan kebetulan mendiang tetangga anda yang telah wafat adalah abdi setianya yang selalu dipuji oleh si saudagar, lalu anda saat melamar pekerjaan atau mungkin mengemis pada saudagar itu, anda berkata : "Berilah saya tuan.. (atau) terimalah lamaran saya tuan, saya mohon.. saya adalah tetangga dekat fulan, nah.. bukankah ini mengambil manfaat dari orang yang telah mati?, bagaimana dengan pandangan bodoh yang mengatakan orang mati tak bisa memberi manfaat??, jelas-jelas saudagar akan sangat menghormati atau menerima lamaran pekerjaan anda, atau memberi anda uang lebih, karena anda menyebut nama orang yang ia cintai, walau sudah wafat, tapi kecintaan si saudagar akan terus selama saudagar itu masih hidup?, pun seandainya ia tak memberi, namun harapan untuk dikabulkan akan lebih besar, lalu bagaimana dengan Arrahmaan Arrhiim, Yang Maha Pemurah dan Maha Menyantuni?? dan tetangga anda yang telah wafat tak bangkit dari kubur dan tak tahu menahu tentang lamaran anda pada si saudagar, NAMUN ANDA MENDAPAT MANFAAT BESAR DARI ORANG YANG TELAH WAFAT.

aduh...aduh... entah apa yang membuat pemikiran mereka sempit hingga tak mampu mengambil permisalan mudah seperti ini. Firman Allah : "MEREKA ITU TULI, BISU DAN BUTA DAN TAK MAU KEMBALI PADA KEBENARAN" (QS Albaqarah-18). Wahai Allah beri hidayah pada kaumku, sungguh mereka tak mengetahui.

Wassalam.

المصطلحات الخاصة بالمذهب الشافعى

المصطلحات الخاصة بالمذهب الشافعى

_________________

معلوم أن الاصطلاح عبارة عن اتفاق طائفة على أمر مخصوص بينهم والشافعية فى كتبهم اصطلحوا على بعض المصطلحات التى تحتاج من يقف عليها ويطالعها دراسة ودرسا إلى معرفة المراد منها ، ضرورة توقف فهم مرادهم فى عباراتهم على معرفة ما اصطلحوا عليه.

ووصولا إلى تحقيق هذا الغرض ، نذكر المصطلحات الآتية ومرادهم بها على النحو التالى:-


1. حيث قالوا "الإمام" يريدون به : الإمام الحرمين.

2. حيث يطلقون "القاضى" يريدون به القاضى حسينا.

3. حيث يطلقون "القاضيان " يريدون به القاضى الرويانى والماوردى.

4. وإذا أطلقوا الشارح" معرفا أو الشارح المحقق يريدون به الجلال المحلى شارح المنهاج.

5. وإن قالوا شارح فالمراد به واحد من الشراح لأى كتاب كان كما هو مفاد التنكير .

6. وحيث قالوا " الشيخان "ونحوه ، يريدون بهما الإمام الرافعى والنووى .

7. و" الشيوخ" فالمراد بهم الرافعى والنووى والسبكى .

8. وحيث أطلق كلمة شيخنا فننظر إلى قائله فابن حجر الهيثمى ، والخطيب الشربينى ، والجمال الرملى ، يريدون بكلمة شيخنا : هو شيخ الإسلام زكريا الأنصارى.

وإذا وجدنا صاحب الفتح المعين يطلق كلمة شيخنا فمراده ابن حجر الهيثمى ، أو شيخ شيخنا فمراده شيخ الإسلام زكريا الأنصارى.

وإذا قال الخطيب : شيخى فمراده الشهاب الرملى ، وهو مراد الجمال الرملى بقوله : أفتى به الوالد ونحوه.

9. وحيث قيل : كما قاله " المتقدمون " فالمراد بهم العلماء قبل الشيخين وهم أصحاب الأوجه غالباً.

10. والمتأخرون هم من بعد الشيخين.

11. وحيث ورد لفظ " كذا "فهو يشير إلى وجود خلاف بين الفقهاء .

12. " جزما " أى لا خلاف فيه .

13. " المذهب الجديد " وهو ما قاله أو أملاه الإمام الشافعى بمصر.

14. " المذهب القديم " وهو ما قاله أو أملاه الإمام الشافعى بالعراق ، أو قبل انتقاله إلى مصر.

15. وحيث أطلقوا لفظ " الجمهور " فالمراد به أكثر العلماء ومعظمهم .

16. ويطلق على لفظ " اتفقوا " على اتفاق أهل المذهب .

17. " هذا مجمع عليه" لا يطلق هذا إلا فيما أجمعت الأمة عليه.

18. "النص" فالمراد به نص الشافعى رضى الله عنه.

19. "وفى قول كذا" هذا يشير إلى وجود قول للشافعى.

20. "وقيل كذا" هذا يشير إلى رأى الأصحاب .

21. "الفقيه" يطلق على من يكون الفقه ملكة له ويطلق أيضا على العارفين بالأحكام الشرعية.

22. "التسامح" هو استعمال اللفظ فى غير موضعه الأصلى كالمجاز بلا قصد علاقة مقبولة.

23. "بعض العلماء" يطلق هذا اللفظ عند النقل عن العالم الحى ، ولا يصرح باسمه لأنه ربما رجع عن قوله،فإن مات صرح عند النقل باسمه.

24. وإذا قال شخص "وعبارته كذا" تعين عليه سوق العبارة المنقولة بلفظها ، ولم يجز له تغير شئ منها ، وإلا كان كاذباً.

25. وإذا قال شخص "قال فلان" فهو بالخيار بين أن سوق عبارته بلفظها أو بمعناها من غير نقلها ، لكن لا يجوز له تغيير شئ من معانى ألفاظها.

26. اهـ ملخصا :أى مؤتى من ألفاظه بما هو المقصود دون ما سواه.

27. وإذا قيل "حاصله أو محصله أو تحريره أو تنقيحه" أو نحو ذلك إشارة إلى قصور الأصل ، أو اشتماله على حشو.

28. "التعسف" وهو ارتكاب ما لايجوز عند المحققين ، ويطلق أيضا على إرتكاب ما لا ضرورة فيه ، وقيل : حمل الكلام على معنى لا تكون دلالته عليه ظاهرة ، وهو أخف من البطلان.

29. وإذا قالوا : "لا يبعد كذا" فهو احتمال .

30. وحيث قالوا : على ما شمله كلامهم ونحو ذلك" فهو إشارة إلى التبرى منه أو أنه مشكل.

31. وإن قالوا : "إن صح هذا فكذا" فظاهر عدم ارتضائه.

32. وإن قالوا "كما أو لكن: فإن نبهوا بعد ذلك على تضعيفه وترجيحه فلا كلام ، وإلا فهو معتمد.

33. وإذا قالوا : "على ما اقتضاه كلامهم أو على ما قاله فلان" بذكر"على" أو قالوا " هذا كلام فلان" فهذه صيغة تبرى كما صرحوا به ثم تارة يرجحونه ، وهذا قليل ، وتارة يضعفونه وهو كثير ، فيكون مقابله هو المعتمد ، أى : إن كان ، وتارة يطلقون ذلك فجرى غير واحد من المشايخ على أنه ضعيف، والمعتمد ما فى مقابله أيضا أى إن كان كما سبق.

34. وإذا قال بعضهم "الاختيار" فيكون هو الذى استنبط المختار عن الأدلة الأصولية بالاجتهاد أى على القول بأن يتحرى وهو الأصح من غير نقل له من صاحب المذهب ، فحينئذ يكون خارجا من المذاهب ولا يعود عليه.

وأما المختار الذى وقع للنووى فى الروضة فهى بمعنى الأصح فى المذهب لا بمعناه المصطلح عليه.

35. وإذا قال " فى أصل الروضة" فالمراد منه عبارة النووى فى الروضة التى لخصها واختصرها من "فتح العزيز شرح الوجيز" للإمام الرافعى وإذا قال زوائد الروضة فالمراد منه زيادتها على ما فى العزيز.

وإذا أطلق لفظ الروضة فهو محتمل لتردد بين الأصل والزوائد وربما يستعمل بمعنى الأصل.

36. وإذا قيل : "كذا فى الروضة وأصلها أو كأصلها " فالمراد بالروضة ما سبق التعبير بأصل الروضة ، وهى عبارة الإمام النووى الملخص فيها لفظ العزيز.

37. والمراد بقولهم " نقله فلان عن فلان ، وحكاه فلان عن فلان " معنى واحد ، لأن نقل الغير هو حكاية قول غيره بخلاف الناقل له ، فإن الغالب تقريره والسكوت عليه إذ القاعدة أن من نقل كلام غيره وسكت عليه فقد ارتضاه.

38. وأما المراد بقولهم : "نبه عليه الأذرعى مثلا للتنبيه ، أو " كما ذكره الأذرعى " مثلا ، فالمراد أن ذلك من عند نفسه . ذكر ذلك الثورى عن شيخه الزيادى .

39. وأما قولهم " الظاهر كذا فهو من بحث القائل لا ناقل له.

40. وإذا قيل " قلت " كان المراد منه كلام خاصة القائل .

41. وإذا ذكر قوله " تأمل " أو قوله " فتأمل " أو فليتأمل " فالمراد أن تأمل " إشارة إلى الجواب القوى ، وقوله " فتأمل " إشارة إلى الضعيف ، وقولـه " فليتأمل " إلى الأضعف .

وقيل : معنى " تأمل " أن فى هذا المحل دقة ، ومعنى " فتأمل " أن فى هذا المحل أمرا زائدا على الدقة بتفصيل ، وقوله " فليتأمل " هكذا مع زيادة بناء على أن كثرة الحروف تدل على كثرة المعنى.

42. والمراد من قولهم : " وفيه بحث " معناه أعم من أن يكون فى هذا المقام تحقيق أو فساد ، فيحمل عليه على المناسب للحمل.

43. والمراد بقولهم " وفيه نظر" يستعمل فى لزوم الفساد، وإذا كان السؤال أقوى يقال :" ولقائل " وجوابه " أقول أو وتقول بإعانة سائر العلماء ، وإذا كان ضعيفا يقال " " فإن قلن " وجوابه " قلنا أو قلت " ، وقيل " فإن قلت " بالفاء سؤال عن القريب ، وبالواو عن البعيد ، " وقيل " يقال فيما فيه الاختلاف ، " وقيل فيه " إشارة إلى ضعف ما قالوا محصل الكلام إجمال بعد تفصيل.

44. والمراد بقولهم " وحاصل الكلام " تفصيل بعد الاجمال، والتحمل : الاحتيال وهو الطلب ، والتأمل هو اعمال الفكر " والتدبر " تصرف القلب فى الدلائل والأمر بالتدبر بغير فاء للسؤال فى المقام ، وبالفاء يكون بمعنى التقرير والتحقيق لما بعده.

45. والفرق بين " وبالجملة " و " فى الجملة " أن فى الجملة يستعمل فى الجزئى وبالجملة فى الكليات : وجملة القول : أى مجموعة ، فهو من الاجمال بمعنى الجمع ضد التفريق لا من الاجمال ضد التفصيل.

46. والمراد بقولهم " اللهم إلا أن يكون كذا " قد يجئ حشوا أو بعد عموم ، حثا للسامع المقيد المذكور قبلها وتنبيها.

47. وإذا وجدنا فى المسألة كلاما فى المصنف ، وكلاما فى الفتوى ، فالعمدة ما فى المصنف . وإذا وجدنا كلاما فى الباب وكلاما فى غير الباب ، فالعمدة ما فى الباب ، وإذا كان فى المظنة وفى غير المظنة استطراد، فالعمدة ما فى المظنة.

48. والمراد من قولهم " الأشهر كذا والعمل خلافه " ، تعارض الترجيح من حيث دليل المذهب والترجيح من حيث العمل ، فساغ العمل بما عليه وقوله " وعليه العمل " صفة ترجيح.

49. والتعبير " وينبغى " الأغلب فيها استعمالها فى المندوب تارة والوجوب أخرى ، ويحمل على أحدهما بالقرينة ، وقد تكون للتحريم أو الكراهة .

50. والمراد بقولهم " شيخ الإسلام " العلامة زكريا بن محمد بن أحمد بن زكريا الأنصارى.

51. إذا قال ابن الشيخ ابن حجر " على المعتمد " فهو الأظهر من القولين أو الأقوال ، وإذا قال " على الأوجه " مثلا ، فهو الأصح من الوجهين أو الأوجه.

52. " والأصحاب المتقدمون " وهم أصحاب الأوجه غالبا وضبطوا بالزمن وهم من الأربعمائة ومن عداهم ، لا يسمون بالمتقدمين ولا بالمتأخرين.

53. والمتأخرون " كل من كان بعد الأربعمائة.

54. " وظاهر كذا " فهو ظاهر من كلام الأصحاب.

55. والتعبير بقولـه " يجوز" إذا أضيف إلى العقود كان بالمعنى الصحة ، وإذا أضيف إلى الأفعال كان بمعنى الحل.