Wednesday, April 30, 2008

Cintailah Idola Kita Sayyidina Muhammad S.A.W(siri kedua)

Dalam artikel ini Insya Allah saya akan terus meluncurkan riwayat-riwayat mengenai Junjungan kita Nabi Muhammad saw, untuk menambah pengetahuan kita dan menambah kecintaan kita kepada beliau saw, Perlu kita fahami bahwa wajah Idola kita Nabi Muhammad saw adalah wajah yang dipenuhi cahaya kelembutan dan kasih sayang, kerana beliau adalah pembawa Rahmat bagi sekalian alam, maka wajah beliau penuh kasih sayang, demikian pula ucapan beliau saw, perangai, tingkah laku, dan bahkan bimbingan beliau saw pun penuh dengan kasih sayang Allah swt.

Dilengkapi penjelasan mengenai Tabarruk dan Istighatsah

Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra bahwa : "Rasulullah saw bila selesai shalat subuh, datanglah beberapa Khadim (pembantu) Madinah dengan Bejana-bejana mereka yang berisi air, maka setiap kali datang kepada Rasul saw setiap bejana itu, maka Rasul saw menenggelamkan tangannya pada bejana tersebut, dan sering pula hal itu terjadi di musim dingin, maka Rasul saw tetap memasukkan jarinya pada bejana-bejana itu" (Shahih Muslim Bab : keakraban Rasul saw dan Tabarruk sahabat pada beliau saw/ hadits no.2324).

Dari Anas ra : "Kulihat Rasulullah saw dan pencukur rambut sedang mencukur rambut beliau saw, dan para sahabat mengelilingi beliau saw, maka tak ada rambut yang terjatuh terkecuali sudah didahului tangan mereka untuk mengambilnya" (Shahih Muslim Bab : keakraban Rasul saw dan Tabarruk sahabat pada beliau saw/ hadits no.2325).

Dari Anas ra : "Ummu sulaim ra mengambil keringat Rasul saw yang mengalir dengan handuk kulit dan memerasnya hingga mengalir disebuah mangkuk ketika beliau saw sedang tidur, maka Rasul saw terbangun dan berkata : "apa yang kau perbuat wahai Ummu Sulaim?", maka Ummu Sulaim menjawab : "Kami ingin mengambil berkah untuk anak-anak kami Wahai Rasulullah..", maka Rasul saw menjawab : "kau sudah mendapatkannya". (Shahih Muslim Bab : "Wanginya keringat Nabi saw dan Tabarruk dengannya", hadits no.2331 dan 2332).

Diriwayatkan oleh Abi Jahiifah dari ayahnya, bahwa para sahabat berebutan air bekas wudhu Rasul saw, mereka yang tak mendapatkannya maka mereka mengusap dari basahan tubuh sahabat lainnya yang sudah terkena bekas air wudhu Rasul saw (Shahih Bukhari hadits no.369, demikian juga pada Shahih Bukhari hadits no.5521, dan pada Shahih Muslim hadits no.503 dengan riwayat yang banyak).

Mengenai Tabarruk ini, sudah jelas dan tidak boleh dimungkiri lagi bahwa Rasul saw tak pernah melarangnya, apalagi mengatakan musyrik kepada yang melakukannya, bahkan para sahabat Radhiyallahu'anhum bertabarruk (mengambil berkah) dari Rasul saw, mengambil berkah ini pada dasarnya bukan menyembah, sebagaimana dituduhkan sebagian saudara kita muslimin, tapi merupakan Luapan kecintaan semata terhadap Rasul saw dan itu semua merupakan hal yang lumrah, sebagaimana kita membezakan air zam-zam dengan air lainnya, mengapa?, bukankah itu sama saja dengan Tabarruk dengan air yang muncul di perut bumi?, air zam-zam itu muncul dari sejak Bunda Nabiyallah Ismail as dikunjungi Jibril as.

Riwayat-riwayat diatas adalah dalil jelas bahwa Tabarruk tidak dilarang oleh Rasul saw bahkan sunnah.., bila ada sekelompok orang yang mengatakan Tabarruk itu hanya pada Rasul saw maka bagaimana Rasul saw mengusap Hajarul aswad..?, bagaimana dengan air zam-zam yang diperebutkan muslimin dan dianggap berkhasiat ini dan itu, Demi Allah belum pernah teriwayatkan para sahabat berebutan air zam-zam, mereka memang minum air zam-zam, tapi mereka berebutan air wudhu bekas Rasul saw.., dan rambut beliau saw, bahkan keringat beliau saw.., inilah luapan Mahabbah, pantas dan wajar saja bila seorang kekasih menyimpan baju kekasihnya misalnya, baju usang tak berarti itu sangat berarti bagi sang kekasih, maka istilah "dikeramatkan" dan lain sebagainya itu pada hakikatnya adalah luapan Mahabbah pada orang-orang shalih dan mulia, sebagaimana para sahabat bertabarruk dengan Rasul saw karena luapan Mahabbah (kecintaan) mereka pada Nabi saw, bukan kerana ia Muhammad bin Abdillah, tapi kerana beliau adalah Utusan Allah yang mengenalkan mereka kepada Hidayah dan kemuliaan, demikian pula hingga kini orang-orang muslim bertabarruk kerana luapan cinta mereka pada gurunya yang bernama Kyai fulan misalnya, atau habib fulan, atau orang shalih misalnya, semata mata bukan memuliakan diri si Kyai atau habib atau guru atau si shalih, tapi semua itu disebabkan ia adalah orang yang membimbing mereka pada Keridhoan Allah, atau kerana mereka orang yang shalih dan banyak ibadah kepada Allah, kalau mereka tak shalih (fasiq) nescaya tak akan ada yang mau bertabarruk padanya, maka puncak asal muasal Tabarruk adalah Kemuliaan Allah yang telah memilih hamba Nya fulan menjadi Guru atau Kyai atau Orang shalih, kerana ini semua dengan Izin Allah, sebagaimana firman Nya : "Sungguh Allah memberi hidayah kepada siapa yang dikehendaki Nya", dan ayat Lain : "Tidaklah kalian memiliki keinginan (utk beristiqomah) kecuali telah dikehendaki Allah Rabbul 'Alamien". (QS Al Kuwwirat).

Nah.. dari Kehendak Allah yang menentukan hamba ini dimuliakan maka kita memuliakannya sebagaimana Allah memuliakannya, demikian para sahabat terhadap Rasul saw, ah.. ternyata para sahabat benar-benar asyik dengan idolanya, Idola termulia dari semua Idola sepanjang masa usia Bumi.., kita tercengang-cengang dengan betapa besarnya luapan cinta para sahabat pada Sang Nabi saw, dan ternyata Rasul saw pun memberi kesempatan pada para pecintanya untuk bertabarruk dengan air wudhu beliau saw, dengan keringat beliau saw, dan lainnya sesekali bukan kerana beliau saw menghendakinya, namun dari keluasan hati beliau saw yang memahami luapan cinta para sahabat beliau saw, bila hal ini mungkar maka pastilah beliau melarangnya, dan bila hal ini dikhususkan pada Rasul saw maka beliau saw akan menjelaskannya bahwa ini hanya kekhususan bagi beliau saw sebagai Rasul saw dan tak boleh diikuti oleh selain beliau saw.

Mengenai Istighatsah, yaitu memanggil manusia untuk minta pertolongan, maka hal ini telah diceritakan oleh beliau saw bahwa kelak semua manusia ber Istighatsah kepada Adam as, lalu kepada Musa, lalu kepada Muhammad saw.., demikian dijelaskan dalam Shahih Bukhari hadits no.1405, mengenai pendapat yang mengatakan bahwa Istighatsah harus kepada orang yang dihadapannya maka pendapat ini tidak beralasan, kerana perbezaan jarak tak boleh menghalangi kemuliaan seseorang di sisi Allah swt, saya boleh saja meminta pertolongan pada teman saya diluar negeri, atau minta bantuan pada seorang berkuasa di negeri seberang yang tak saya kenali misalnya, melalui email atau surat atau lainnya, ini sudah terjadi di masa kini, yaitu hubungan antara negara, maka mustahilkah Allah menghubungkan hamba Nya yang masih hidup dengan yang sudah wafat?, bukankah diwajibkan bagi kita menyembahyangkan mayat dan mendoakannya dengan Doa "Wahai Allah ampunilah dia, maafkanlah dia, muliakanlah kewafatannya, luaskanlah kuburnya, dst didalam shalat janazah?, bukankah hadits shahih muslim dan Bukhari menjelaskan bahwa orang mati tersiksa di alam kubur kerana jeritan orang yang menangisinya?, bukankah ini menunjukkan ada hubungan antara yang hidup dan yang mati?, bukankah Rasul saw mengatakan bahwa diperbolehkannya mengirim amal untuk orang yang sudah wafat? (saebagaimana diriwayatkan dalam shahih Muslim), bukankah Allah mengajari kita doa "Wahai Allah Ampunilah kami dan orang orang yang telah mendahului kami dalam beriman..?".

Yang jelas, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits Istighatsah diatas, bahwa aku dan kalian dan seluruh manusia kelak di hari kiamat akan melakukan Istighatsah.., yaitu kepada Adam as dan akhirnya kepada Muhammad saw, mau tak mau, rela tak rela, apakah menganggapnya syirik atau lainnya, namun Sayyidina Muhammad saw menjelaskan bahwa aku dan kalian dan seluruh ummatnya kelak akan ber Istighatsah kepada beliau saw.

Alangkah Indahnya Idola kita Nabi S.A.W mulia ini, dan selama kita mengakui bahwa para sahabat adalah orang-orang yang menjadi panutan kita, maka lihatlah kecintaan sahabat radhiyallahu'anhum pada beliau saw, bahkan ketika beliau wafat.., apa yang diperbuat oleh Khalifah kita Sayyidina Abubakar Asshiddiq ra?, beliau menyingkap kain penutup wajah Rasulullah saw lalu memeluk Jenazah beliau saw dan menciuminya seraya menangis dan berkata lirih : "Demi ayahku, Engkau dan Ibuku, tak akan terjadi dua kali kematian atasmu.. (maksudnya engkau tak akan merasakan sakitnya kematian lagi setelah ini). Demikian diriwayatkan didalam Shahih Bukhari (hadits no.4187).

Mengapa Abubakar Ashiddiq ra bersumpah dengan ayah ibunya dan Rasul saw?, dan berkata kata kepada Jenazah yang sudah wafat?, mengapa pula ia menangis dan menciumi jenazah itu?, mengapa menciumi jenazah orang yang sudah wafat sambil menangis?, adakah kita menemukan jawaban lain selain luapan kecintaannya pada Muhammad Rasulullah saw?, alangkah cintanya Abubakar Asshiddiq ra kepada Rasul saw, bahkan setelah wafat pun Abubakar Asshiddiq masih menciumi jenazah beliau saw, Alangkah cintanya Umar bin Khattab kepada Rasul saw hingga ia awalnya tak mau menerima kejadian wafatnya Rasul saw..?, tak percaya, dan mengingkari wafatnya Rasul saw?, mengapa?, bodohkah ia?, adakah jawaban lain selain besarnya kecintaan Umar bin Khattab ra pada Nabi saw?,

Wahai Allah Yang Maha Memenuhi sanubari para sahabat Nabi dengan kecintaan dan Asyik rindu pada Nabi Mu Muhammad saw.. Jadikan sanubari kami diterangi pula kecintaan pada Nabi Mu Muhammad saw, dan jadikanlah sanubari kami beridolakan Nabi Muhammad saw.. amiin..

Kontributor: Munzir Almusawa


(Bersambung)

KEWAJIPAN-KEWAJIPAN AL-AKH MUSLIM

Dalam hubungan kewajipan-kewajipan al-akh muslim yang menggabungkan diri ke dalan gerakan Islam,Ustaz Hasan Al-Banna telah menentukan dalam Risalah Ta’alim lebih dari tiga puluh kewajipan. Melalui kewajipan-kewajipan ini,Ustaz Hasan Al-Banna telah merumuskan kewajipan al-akh terhadap dirinya, rumahtangga dan masyarakatnya.Ustaz Hasan Al-Banna telah mengatakan : “Saudara yang jujur, keimananmu terhadap bai’ah ini mewajibkan saudara menunaikan kewajipan-kewajipan berikut, sehingga dengan kewajipan-kewajipan ini saudara telah menjadi seketul bata yang kuat dalam proses pembinaan ini ;

1. Hendaklah saudara mempunyai wirid tertentu dari Al-Quran tidak kurang dari satu juzuk tiap-tiap hari. Hendaklah saudara mengkhatamkan Al- Quran tidak lebih dari masa sebulan dan tidak kurang dari tiga hari.

2. Hendaklah saudara mengelokkan bacaan Al-Quran, mendengar Al-Quran dan mengambil pengajaran dari Al-Quran. Hendaklah saudara mengkaji sejarah Rasulullah saw dan sejarah orang-orang Islam yang terdahulu sekadar keluangan waktu saudara. Paling kurang hendaklah saudara membaca buku “Humatul Islam”. Hendaklah saudara banyak membaca hadis Rasulullah saw dan menghafaz sekurang-kurangnya empat puluh hadis, sebaik-baiknya empat puluh itu ialah hadis susunan Imam Nawawi. Hendaklah saudara mengkaji risalah usul akidah dan risalah cabang hukum fekah.

3. Hendaklah saudara bersegera memeriksa kesihatan saudara secara umum dan mengkaji penyakit yang ada pada saudara. Hendaklah saudara mengambil berat tentang soal-soal kekuatan tenaga saudara, menjaga tubuh badan dan menjauhi sebab-sebab yang membawa kelemahan kesihatan saudara.

4. Janganlah saudara berlebihan minum kopi, teh dan lain-lain minuman yang merangsang. Hendaklah saudara jangan merokok sama sekali.

5. Hendaklah saudara menjaga kebersihan dalam semua perkara, tempat tinggal, pakaian, anggota dan tempat bekerja. Sesungguhnya Islam dibina di atas kebersihan.

6. Hendaklah saudara benar dalam percakapan. Jangan berdusta sama sekali.

7. Hendaklah saudara menunaikan janji dan mengotakan apa yang saudara perkatakan. Jangan saudara menyalahinya walau bagaimana keadaan saudara.

8. Hendaklah saudara bersifat berani dan luas pandangan. Keberanian yang paling mulia ialah berterus terang demi hak dan kebenaran, menyimpan rahsia, mengaku kesalahan, menginsafi diri dan menahan diri dari kemarahan.

9. Hendaklah saudara bersifat serius dan mengutamakan kesungguhan, tetapi keseriusan saudara tidaklah menghalang saudara dari bergurau dengan gurauan yang benar dan senyum ketawa yang tidak melampau.

10. Hendaklah saudara bersifat pemalu, halus perasaan, sensitif terhadap perkara-perkara baik dan jahat dengan merasakan gembira melihat kebaikan dan dukacita melihat kejahatan. Hendaklah saudara menuntut martabat kedudukan atau pangkat yang lebih rendah dari martabat yang sepatutnya saudara terima demi untuk mencari martabat saudara yang sebenar.

11. Hendaklah saudara berlaku adil, menghukum dengan yang sebenarnya dalam semua hal. Kemarahan saudara jangan sampai melupakan kebaikan orang, demikian juga keredaan saudara jangan sampai melupakan kejahatan orang lain. Permusuhan saudara jangan sampai melupakan kebaikan orang lain. Saudara mestilah berkata benar sekalipun terhadap diri saudara dan orang yang paling hampir dengan saudara, sekalipun perkara itu pahit bagi saudara.

12. Saudara mestilah cergas, melatih diri memberikan khidmat umum. Saudara mestilah merasa bahagia apabila dapat memberikan khidmat kepada orang lain, oleh itu saudara hendaklah menziarahi pesakit, menolong orang yang berhajat, membantu orang yang lemah, memujuk dan menenangkan mereka yang ditimpa kemalangan sekalipun dengan perkataan yang baik dan saudara mestilah sentiasa bersegera melakukan kerja-kerja kebajikan.

13. Saudara mestilah bersifat belas kasihan, pemurah dan pengampun. Saudara hendaklah mengampun dan memaafkan, berlembut dan berlemah lembut. Saudara hendaklah belas kasihan kepada manusia dan binatang, baik hubungan dengan orang lain, menjaga adab sopan masyarakat Islam; dengan itu saudara mestilah berlembut dengan orang yang lebih muda, menghormati orang yang lebih tua, melapangkan tempat duduk dalam majlis, jangan mengintip rahsia, jangan mencerca dan mengutuk, minta izin waktu masuk dan keluar dan lainnya.

14. Saudara seharusnya cekap membaca dan menulis. Saudara hendaklah membanyakkan membaca dan meneliti risalah Ikhwan Muslimin, akhbar dan majalah lainnya .Hendaklah saudara menyediakan khutub-khutub khas untuk saudara sekalipun kecil. Saudara mestilah meluaskan ilmu dan mempertingkatkan pengkhususan saudara dalam satu-satu bidang. Saudara juga mestilah memahami masalah-masalah Islamiah secara umum dengan kefahaman dan membolehkan saudara menggambarkan permasalahan itu dan menentukan hukumnya sesuai dengan tuntutan fikrah kita.

15. Saudara mestilah melakukan kerja-kerja iktisad yang mendatangkan hasil kemasukan wang walau bagaimanapun kekayaan saudara. Mengutamakan kerja-kerja bebas sekalipun kecil pendapatannya, menaruh minat kepada pekerjaan itu walau setinggi mana kelulusan saudara.

16. Jangan mengutamakan jawatan kerajaan. Saudara mestilah menganggap jawatan kerajaan itu sebagai satu sumber rezeki yang sempit, tetapi saudara jangan menolaknya jika di beri peluang dan jangan saudara meletakkan jawatan itu kecuali ianya benar-benar bertentangan dengan kewajipan dakwah.

17. Saudara mestilah bersungguh-sungguh menunaikan tugas-tugas saudara dengan berusaha memperelok dan memperkemaskannya,menjaga masa dan jangan menipu

18. Saudara mestilah menerima hak saudara dengan baik, menyempurnakan hak orang lain dengan tidak kurang, tidak payah di minta dan jangan melambat-lambatkannya sama sekali.

19. Saudara mestilah menjauhi segala jenis perjudian walau bagaimanapun tujuan di sebaliknya,menjauhi punca-punca pencarian yang haram walau bagaimanapun besar dan cepatnya keuntungan dari punca-punca itu.

20. Saudara mestilah menjauhi riba dalam semua urusan dan membersihkan diri saudara dari riba.

21. Saudara mestilah memberi khidmat kepada kekayaan Islam secara umum dengan menggalakkan industri dan perbadanan-perbadanan ekonomi Islam. Saudara mestilah berhati-hati benar supaya satu sen pun wang saudara tidak jatuh ke tangan orang bukan Islam walau bagaimanapun keadaan saudara. Jangan saudara pakai dan makan kecuali barang pengeluaran negara Islam.

22. Saudara mestilah mempunyai wang dalam dakwah dengan memberikan sebahagian dari harga saudara. Saudara mestilah menunaikan zakat, jadikanlah zakat itu sebagai hak yang tertentu bagi mereka yang berhak walau bagaimanapun kecilnya pendapatan saudara.

23. Saudara mestilah menyimpan sebahagian dari pendapatan saudara untuk masa-masa kecemasan sekalipun sedikit dan jangan sekali-kali saudara berlebihan dalam perkara-perkara mewah.

24. Saudara mestilah bekerja sekadar yang upaya untuk menghidupkan adat

istiadat dan kebudayaan Islam dan menghapuskan kebudayaan kuning dalam kehidupan saudara yang zahir. Sebahagian dari adat-adat itu ialah salam, bahasa, sejarah, pakaian, perabut, masa kerja dan rehat, makan minum, adat waktu datang ziarah dan permisi, adat waktu kegembiraan dan kedukaan dan lainnya. Saudara mestilah mengikut sunnah dalam semua hal ini.

25. Saudara mestilah memulaukan mahkamah-mahkamah tempatan dan semua mahkamah yang tidak bercorak Islam. Saudara mestilah memulaukan akhbar-akhbar, majalah, kelab-kelab, perhimpunan-perhimpunan sekolah-sekolah, dan pertubuhan-pertubuhan yang bertentangan dengan fikrah Islamiah.

26. Saudara mestilah sentiasa ingatkan Allah, hari akhirat dan bersedia untuk menghadapinya. Saudara mestilah mengikut jalan mencari keredhaan Allah dengan himmah dan azam yang tinggi. Saudara mestilah menghampirkan diri kepada Allah dengan melakukan ibadat-ibadat yang sunat seperti sembahyang waktu malam, puasa paling kurang tiga hari sebulan, membanyakkan zikir dalam hati dan lisan. Saudara mestilah memilih doa-doa ma’athur, yang pernah dibuat oleh Rasulullah saw dalam semua keadaan.

27. Bila saudara bersuci, saudara mestilah menyempurnakan syarat rukunnya dan saudara mestilah sentiasa dalam keadaan berwuduk.

28. Saudara mestilah menyempurnakan syarat dan rukun sembahyang dan sentiasa menunaikannya dalam waktunya. Saudara mestilah mengutamakan sembahyang berjemaah sembahyang di masjid sedapat yang mungkin.

29. Saudara mestilah berpuasa dalam bulan Ramadhan, menunaikan haji jika upaya dan saudara mestilah melakukannya sekarang jika saudara berkuasa.

30. Saudara mestilah berniat untuk berjihad, ingin mati syahid dan membuat persediaan untuk tujuan tersebut sedaya yang boleh.

31. Saudara mestilah sentiasa memperbaharui taubat dan istighfar,menjauhi dosa-dosa kecil lebih-lebih lagi dosa-dosa besar. Saudara mestilah menentukan satu masa yang khas sebelum tidur untuk saudara menghisab segala buruk baik yang telah saudara lakukan. Saudara mestilah menjaga masa, kerana masa itulah hidup. Jangan saudara menggunakan sedikit pun masa saudara untuk perkara-perkara yang tidak berfaedah. Saudara mestilah bersifat warak,menjauhi perkara-perkara syubahat supaya saudara tidak terjatuh ke dalam perkara-perkara yang haram.

32. Saudara mestilah menjauhi arak dan bahan-bahan yang memabukkan dan yang seumpamanya.

33. Saudara mestilah melawan nafsu saudara sekeras-kerasnya sehingga mudah bagi saudara mengendalikannya. Saudara mestilah menutup pandangan saudara dari melihat perkara yang mungkar, melawan peasaan, melawan dorongan naluri dalam diri saudara. Saudara mestilah mengangkat taraf saudara melalui naluri saudara dengan mengarahkannya kepada perkara-perkara baik dan halal. Saudara mestilah menjauhkan naluri saudara dari perkara-perkara haram,bila dan di mana sahaja.

34. Saudara mestilah memerangi tempat-tempat hiburan apa lagi mendekatinya. Saudara mestilah menjauhi perkara zahir yang menunjukkan kemewahan,boros dan bongkak.

35. Saudara mestilah menjauhkan diri dari mendampingi rakan-rakan yang jahat dan kawan-kawan yang rosak akhlaknya. Saudara mestilah menjauhi tempat-tempat maksiat dan dosa.

36. Saudara mestilah benar-benar mengenali anggota kumpulan saudara seorang demi seorang dan memperkenalkan diri saudara kepada mereka, demikian juga saudara hendaklah menunaikan hak-hak persaudaraan dengan sempurnanya dan dengan rasa kasih sayang, menghargai, tolong-menolong, mengutamakan orang lain dan saudara mestilah hadir dalam perhimpunan-perhimpunan mereka, jangan saudara ketinggalan kecuali dengan keuzuran yang tidak dapat dielakkan di samping saudara sentiasa mengutamakan mereka dalam pergaulan dan perhubungan saudara.

37. Saudara mestilah memutuskan hubungan saudara dengan mana-mana pertubuhan atau mana-mana perhimpunan yang tidak ada hubungan dengan maslahat fikrah saudara lebih-lebih lagi bila saudara diperintahkan berbuat demikian.

38. Saudara mestilah bekerja menyebarkan dakwah kita di mana-mana sahaja. Saudara hendaklah memberitahu pucuk pimpinan tentang keadaan dan hal-hal yang melingkungi saudara dan jangan saudara melakukan sesuatu amal yang akan memberi kesan dan menjejaskan perkara-perkara asasi pada pucuk pimpinan kecuali setelah mendapat izin. Saudara mestilah sentiasa melakukan hubungan roh dan amal dengan pucuk pimpinan. Saudara mestilah menganggap diri saudara sebagai seorang tentera dalam suasana tegang yang sentiasa menunggu perintah.

Akhir sekali apa yang baik datangnya daripada Allah S.W.T dan apa yang buruk datangnya daripada kelemahan saya sendiri.semoga kita sama-sama dapat amal dan sampaikan kepada saudara-saudara seislam kita.berkhidmatlah untuk islam walauapa jua cara sekalipun.

beriman,berilmu dan beramal….Wallahu a’lam..

Wassalam….

Rujukan dari buku: Mengapa saya menganut Islam.